jump to navigation

Bahasa Sunda Di Lingkungan Siswa June 13, 2009

Posted by bahalit3368 in Rubrik.
add a comment

Oleh : bahalit
Berbicara tentang Sastra dan Bahasa Sunda khususnya di lingkungan Pendidikan, tidak terlepas dari peranan siswa untuk lebih jauh mengenal yang disebut induk bahasa. Sebenarnya sering digunakan dalam obrolan sehari-hari, bahkan sering kali dibahas, baik yang disampaikan oleh Guru bahasa Sunda, maupun melalui seminar resmi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Tapi banyak Guru yang masih “ luh-lah” dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, karena keterbatasan buku atau bahan pengajaran Bahasa Sunda.
Pengajaran Bahasa Sunda kalau tidak telaten akan menemui jalan buntu dalam menyampaikan materi. Dengan keterbatasan buku dan bahan pengajaran, tak ada salahnya jika para Guru mencari bahan pengajaran lewat Multimedia atau Internet. Walaupun kurang cocok dengan Kurikulum, tapi kalau bahan pengajarannya sudah ada, setidaknya para Guru bisa menyampaikannya kepada siswa. Meski pengajaran Bahasa Sunda hanya sekedar “ Pangjangkep” dari pelajaran pokok yang di Ujian- Nasionalkan.
Kalau di cermati, tidak semua siswa mampu berbicara dalam Bahasa Sunda dengan baik dan benar. Memang sulit dalam prakteknya bila belum memahaminya. Lain halnya dengan bahasa Indonesia . Mereka begitu lancar walau kadang tidak sesuai dengan pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sulitnya berbicara dengan memakai Bahasa Sunda, karena bahasa ini menggunakan ragam undak-usuk basa dan tatakrama. Digunakannya jika dengan siapa lawan bicara kita. Berbicara kepada yang lebih tua dari kita, lain dengan berbicara kepada sesama atau kepada yang lebih muda. Mungkin inilah yang menyulitkan jika harus berbicara dengan menggunakan Bahasa Sunda. Untuk menerapkannya, biasakan berbicara Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, baik itu di lingkungan keluarga, di Sekolah ataupun di lingkungan yang lain. Belajarlah dari pengalaman, jangan merasa malu jika harus berbicara dengan Bahasa Sunda.Disamping kita belajar Bahasa Sunda, secara tidak langsung kita sudah menghargai bahasa budaya kita sendiri. Kita sebagai orang Sunda harus merasa “reueus” dengan Bahasa Sunda. Kita harus melestarikan kelangsungannya, karena oleh siapa lagi budaya kita akan “dimumule” kalau bukan oleh kita sendiri sebagai orang Sunda.